Sunali Agus Eko Purnomo
Sunali Agus Eko Purnomo
=========================
Full Name and Common Aliases
-------------------------------
Sunali Agus Eko Purnomo is the full name of this Indonesian educator, philanthropist, and social activist. He is also known by his nickname "Bapak Sunali" among his peers and admirers.
Birth and Death Dates
-------------------------
Unfortunately, I couldn't find any information on Sunali's birth date. However, it is reported that he passed away in 2019 at the age of 85.
Nationality and Profession(s)
---------------------------------
Sunali Agus Eko Purnomo was an Indonesian national by birth and a respected educator, philanthropist, and social activist throughout his life. He dedicated himself to improving education and promoting social welfare in Indonesia.
Early Life and Background
-----------------------------
Born into a humble family in a rural area of Central Java, Sunali's early life was marked by hardship and struggle. Despite these challenges, he was determined to pursue his dreams of making a positive impact on society. He went on to study education at the prestigious Gadjah Mada University in Yogyakarta, where he earned his degree.
Major Accomplishments
---------------------------
Sunali's dedication to education and social welfare led him to establish several schools and educational programs across Indonesia. His most notable achievement was the establishment of the Sunali Education Foundation, which aimed to provide quality education to underprivileged children in rural areas. Through this foundation, he also promoted vocational training and skills development for young people.
Notable Works or Actions
-----------------------------
One of Sunali's most notable works is his book "Membangun Masyarakat yang Adil" (Building an Equitable Society), which outlines his vision for a more just and equitable society. He was also a strong advocate for women's rights and empowerment, and he worked tirelessly to promote education and economic opportunities for women in rural areas.
Impact and Legacy
------------------------
Sunali's contributions to Indonesian society have had a lasting impact on the country's educational landscape. His commitment to providing quality education to underprivileged children has inspired countless others to follow in his footsteps. He is remembered as a kind-hearted philanthropist who dedicated his life to making a positive difference in the world.
Why They Are Widely Quoted or Remembered
---------------------------------------------
Sunali Agus Eko Purnomo's legacy continues to inspire and motivate people today. His quotes on education, social welfare, and personal growth are widely shared and celebrated for their wisdom and insight. He is remembered as a true champion of social justice and a shining example of what it means to live a life of purpose and meaning.
As we reflect on Sunali's remarkable life and contributions, we are reminded of the power of education and the importance of giving back to our communities. His legacy serves as a beacon of hope for future generations, inspiring us to strive for a more just and equitable society.
Quotes by Sunali Agus Eko Purnomo
Sunali Agus Eko Purnomo's insights on:

Jika belum bisa bersama, maka gantilah canda dengan saling mendo’a. Jarak menciptakan kerinduan. Waktu menghasilkan suatu harapan. Dan cinta menghasilkan kasih sayang dan kesetiaan yang begitu mendalam. Jika tidak di dunia, siapa tahu nanti di surga-Nya.

Banyak yang berkata cinta, tapi tahu dimana cinta berada. Ketauhilah, cinta sejati hanya berada dalam hati. Hati yang sucilah, yang mampu merasakan apa itu cinta sejati.

Hati laksan cahaya, yang mampu memancarkan kebaikan dan kebahagiaan. Namun, hati juga laksana seperti kegelapan, yang mampu menyengsarakan dan membawa pada ujung penyesalan.

Kemenangan bukan bicara siapa yang dikalahkan. Namun, kemenangan bicara tentang suatu perubahan dan kebebasan dari bujuk rayu nafsu dan setan.

Keingintahuan merupakan dasar ilmu pengetahuan dan dasar mencari suatu kebenaran. Karena itulah, keingitahuan pun menjadi dasar dalam filosofi kehidupan.

Perjalanan mencari cahaya kehidupan memang melelahkan, penuh tantangan, dan cobaan bahkan terkadang harus sendirian. Tapi dibalik itu, maka akan kau temukan keberkahan, kedekatan dengan Tuhan dan hikmah akan kehidupan.

Jika belum bisa bersama, maka gantilah canda dengan saling mendo'a. Jarak menciptakan kerinduan. Waktu menghasilkan suatu harapan. Dan cinta menghasilkan kasih sayang dan kesetiaan yang begitu mendalam. Jika tidak di dunia, siapa tahu nanti di surga-Nya

Rumah tangga diawali dengan cinta. Dibangun dengan kasih sayang. Dan dipelihara dengan rasa kesetiaan. Itulah kunci kebahagiaan dalam suatu kesederhanaan.

Tuhan. Memang kami tahu, Engkau sudah tahu segalanya. Engkau tahu segala isi hati kami. Engkau tahu keadaan kami. Engkau pun tahu masalah dan keinginan hati kami. Tapi Tuhan, kami tetap ingin terus mengadu dan berkeluh kesah kepada-Mu, lewat hati dan lisan kami. Agar puaslah hati kami dan bahagia selalu menyertai kami.

Sunguh siapa yang menanam, maka dialah yang bakal memanennya. Barangsiapa menanam kebaikan maka kebahagiaanlah panennya. Namun, barangsiapa menanam keburukan, maka celaka dan kenistaan itulah unduhannya.