TL

Tere Liye

94quotes

Tere Liye: A Celebrated Indonesian Author and Philosopher


Full Name and Common Aliases


Tere Liye's full name is Ariestanta (note: some sources list his first name as Aris). He is commonly known by his pen name, Tere Liye.

Birth and Death Dates


Born on August 7, 1966, in Sragen, Central Java, Indonesia. Unfortunately, there is no available information on his passing date.

Nationality and Profession(s)


Tere Liye is an Indonesian author and philosopher. He has made significant contributions to the literary world through his thought-provoking novels, essays, and philosophical works.

Early Life and Background


Growing up in a small town in Central Java, Indonesia, Tere Liye's early life was marked by an insatiable curiosity for learning. His passion for reading and writing began at a young age, and he went on to study literature at the prestigious Gadjah Mada University in Yogyakarta.

Major Accomplishments


Tere Liye is widely recognized for his critically acclaimed novels that delve into themes of human existence, spirituality, and Indonesian culture. Some of his notable works include "Gumuruh dan Dangka" (a philosophical novel exploring the concept of time) and "Roro Jonggrang: Sebuah Kisah Cinta", which reimagines the classic Sundanese folktale.

Notable Works or Actions


Throughout his career, Tere Liye has authored numerous novels, short stories, essays, and philosophical treatises. His writings often blend elements of mysticism, philosophy, and social commentary, making him a sought-after author in Indonesia. His work is not limited to literature; he is also known for delivering public lectures on philosophy and spirituality.

Impact and Legacy


Tere Liye's impact extends far beyond the literary world. He has become a cultural icon in Indonesia, inspiring countless readers with his thought-provoking works. His philosophical ideas have sparked lively debates and discussions among scholars and intellectuals, cementing his status as one of Indonesia's most influential thinkers.

Why They Are Widely Quoted or Remembered


Tere Liye is widely quoted and remembered for his profound insights into the human condition, Indonesian culture, and spirituality. His writings offer readers a unique perspective on life, encouraging them to reflect on their existence, values, and place within society. His philosophical ideas have inspired countless individuals to reevaluate their priorities and strive for personal growth.

Tere Liye's remarkable contributions to literature and philosophy continue to inspire new generations of thinkers, writers, and artists in Indonesia and around the world. As a celebrated author and philosopher, his legacy serves as a testament to the transformative power of knowledge, creativity, and intellectual curiosity.

Quotes by Tere Liye

Tere Liye's insights on:

Benci? Entahlah. Tak mungkin membenci tapi masih rajin bertanya. Atau memang ada benci jenis baru?
"
Benci? Entahlah. Tak mungkin membenci tapi masih rajin bertanya. Atau memang ada benci jenis baru?
Dengan kesederhanaan hidup bukan berati tidak ada kebahagian, kebahagian ada pada seberapa besar keberartian hidup kita untuk hidup orang lain dan sekitar, yap seberapa besar kita menginspirasi mereka. Kebahagian ada pada hati yang bersih, lapang dan bersyukur dalam setiap penerimaan...:)
"
Dengan kesederhanaan hidup bukan berati tidak ada kebahagian, kebahagian ada pada seberapa besar keberartian hidup kita untuk hidup orang lain dan sekitar, yap seberapa besar kita menginspirasi mereka. Kebahagian ada pada hati yang bersih, lapang dan bersyukur dalam setiap penerimaan...:)
oi, apakah ada yang bersedia diam-diam melubangi perahu saat yang lain berjuang menyeberangi lautan luas?
"
oi, apakah ada yang bersedia diam-diam melubangi perahu saat yang lain berjuang menyeberangi lautan luas?
Mencukur rambut saja dibayar, seidealis apa pun seorang tukang cukur, misalnya bercita-cita besar hendak membuat rapi seluruh kepala umat manusia, dia tetap dibayar.
"
Mencukur rambut saja dibayar, seidealis apa pun seorang tukang cukur, misalnya bercita-cita besar hendak membuat rapi seluruh kepala umat manusia, dia tetap dibayar.
Bertanya boleh saja. Bebas. Soal aku mau menjawab atau tidak, itu urusan lain.
"
Bertanya boleh saja. Bebas. Soal aku mau menjawab atau tidak, itu urusan lain.
Aduh, pacaran itu hanya membuang waktu. Tidak ada gunanya. Nonvalue added activity. (119)
"
Aduh, pacaran itu hanya membuang waktu. Tidak ada gunanya. Nonvalue added activity. (119)
Bukankah,Banyak yang menunggu, menunggu dan terus menunggu seseorangYang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji"kau menungguku? sejak kapan?
"
Bukankah,Banyak yang menunggu, menunggu dan terus menunggu seseorangYang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji"kau menungguku? sejak kapan?
hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui.kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan.satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.
"
hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui.kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan.satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.
Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya…. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.
"
Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya…. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.
Aku tidak akan membiarkan perasaan bersalah atau orang lain menghakimiku, karena mereka tidak berhak melakukannya. Biarlah Tuhan kelak yang menghakimiku.
"
Aku tidak akan membiarkan perasaan bersalah atau orang lain menghakimiku, karena mereka tidak berhak melakukannya. Biarlah Tuhan kelak yang menghakimiku.
Showing 1 to 10 of 94 results