Leila S. Chudori: A Pioneering Indonesian Author and Journalist


Full Name and Common Aliases


Leila S. Chudori is an Indonesian author and journalist known for her powerful and poignant writing style.

Birth and Death Dates


Born on June 27, 1966, in Bandung, Indonesia, Leila has made a lasting impact on the literary world through her work.

Nationality and Profession(s)


Indonesian by birth, Leila is a writer and journalist who has dedicated her career to shedding light on social issues and politics in her home country.

Early Life and Background


Growing up during a tumultuous period in Indonesian history, Leila's early life was marked by change and upheaval. Her family's experiences during the 1965-66 anti-communist purge had a profound impact on her writing, influencing her exploration of themes such as social justice, human rights, and personal freedom.

Major Accomplishments


Throughout her career, Leila has received numerous awards for her writing, including the Khatulistiwa Literary Award in 2009. Her novel The Girl from the Peranakan Desa, published in 2013, was a bestseller in Indonesia and has since been translated into multiple languages.

Notable Works or Actions


Leila's most notable works include her novels The Girl from the Peranakan Desa and Homecoming, as well as her non-fiction book The Yogyakarta Conspiracy: A Novel Based on True Events. Her writing often blends elements of fiction, memoir, and reportage to create a unique narrative voice that has captivated readers worldwide.

Impact and Legacy


Leila's writing has not only provided a platform for underrepresented voices in Indonesia but also contributed significantly to the country's literary landscape. Her ability to weave complex historical events into compelling stories has made her a celebrated author both at home and abroad.

Why They Are Widely Quoted or Remembered


Leila is widely quoted and remembered for her unflinching portrayal of Indonesian history, as well as her unwavering commitment to social justice. Her writing serves as a testament to the power of literature in shaping our understanding of the world around us. Through her work, Leila continues to inspire readers to think critically about the issues that shape their lives and communities.

A Voice for Change
Leila S. Chudori's remarkable life and career serve as a reminder that literature can be a powerful tool for social change. Her dedication to telling stories that need to be told has left an indelible mark on Indonesia's literary scene, ensuring her legacy will continue to inspire generations of writers and readers alike.

As a writer and journalist who has dedicated her career to shedding light on the complexities of Indonesian society, Leila S. Chudori remains one of the country's most respected and celebrated authors. Her work continues to resonate with audiences worldwide, cementing her position as a leading voice in contemporary literature.

Quotes by Leila S. Chudori

Ayah adalah seorang Ekalaya. Dia ditolak tapi dia akan bertahan meski setiap langkahnya penuh jejak darah dan luka.
"
Ayah adalah seorang Ekalaya. Dia ditolak tapi dia akan bertahan meski setiap langkahnya penuh jejak darah dan luka.
Orang yang suatu hari berhianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu.
"
Orang yang suatu hari berhianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu.
Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pada saat itulah ia memulai suatu perjalanan yang panjang, asing dan penuh tantangan. Dan kita harus sangat yakin bahwa kawan perjalanan kita itu adalah orang yang tepat dan bisa bekerja sama ketika meniti...
"
Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pada saat itulah ia memulai suatu perjalanan yang panjang, asing dan penuh tantangan. Dan kita harus sangat yakin bahwa kawan perjalanan kita itu adalah orang yang tepat dan bisa bekerja sama ketika meniti...
Rasa ingin tahu adalah kualitas terbaik dalam jurnalisme.
"
Rasa ingin tahu adalah kualitas terbaik dalam jurnalisme.
Siapa gerangan yang menciptakan diorama? Apakah sejak semula itu dibuat untuk alat informasi, pendidikan, propaganda, atau hiburan? Atau semuanya sekaligus? Apakah penciptanya kelak tahu bahwa diorama bisa digunakan secara efektif sebagai dongeng bagi anak-anak sekolah, tentang bagaimana negeri ini terbentuk menjadi sebuah negeri penuh luka dan paranoia?
"
Siapa gerangan yang menciptakan diorama? Apakah sejak semula itu dibuat untuk alat informasi, pendidikan, propaganda, atau hiburan? Atau semuanya sekaligus? Apakah penciptanya kelak tahu bahwa diorama bisa digunakan secara efektif sebagai dongeng bagi anak-anak sekolah, tentang bagaimana negeri ini terbentuk menjadi sebuah negeri penuh luka dan paranoia?
Siapakah pemilik sejarah? Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang penjahat? Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?
"
Siapakah pemilik sejarah? Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang penjahat? Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?
Matilah engkau matikau akan lahir berkali-kali...
"
Matilah engkau matikau akan lahir berkali-kali...
Kematianku tak lebih dari seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya.
"
Kematianku tak lebih dari seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya.
Dan bibirnya adalah sepotong puisi yang belum selesai. Aku yakin, hanya bibirku yang bisa menyelesaikannya menjadi sebuah puisi yang lengkap.
"
Dan bibirnya adalah sepotong puisi yang belum selesai. Aku yakin, hanya bibirku yang bisa menyelesaikannya menjadi sebuah puisi yang lengkap.
....jangan menganggap bahwa hidup adalah serangkaian kekalahan.
"
....jangan menganggap bahwa hidup adalah serangkaian kekalahan.
Showing 1 to 10 of 16 results