LM

Lenang Manggala


================

A True Patriot and National Hero of Indonesia

Full Name and Common Aliases

Lenang Manggala was a renowned Indonesian national hero who was born on April 5, 1918. He is commonly known as Raden Lenang or simply Lenang, names that reflect his humble yet strong personality.

Birth and Death Dates

Lenang Manggala was born in Batu Aji, East Sumatra (now in North Sumatra), Indonesia on April 5, 1918. His life was tragically cut short when he was executed by the Japanese occupation forces on March 30, 1942.

Nationality and Profession(s)

Lenang Manggala was an Indonesian patriot who fought for the independence of his country from Dutch colonial rule. He was a member of the Indonesian National Army (TNI) and served as a commander in the Sumatran region during World War II.

Early Life and Background

Growing up in Batu Aji, Lenang Manggala was exposed to the harsh realities of colonialism and its effects on his community. His early life experiences instilled in him a strong sense of justice and a desire to fight for his country's freedom. He was an active member of the Indonesian National Party (PNI) and participated in various underground movements to resist Dutch rule.

Major Accomplishments

Lenang Manggala's most notable achievement was leading the Sumatran resistance against the Japanese occupation forces during World War II. He organized a group of guerrilla fighters who conducted ambushes, sabotage operations, and other forms of armed resistance against the enemy. His bravery and tactical skills earned him recognition as one of the most effective commanders in the region.

Notable Works or Actions

One of Lenang Manggala's most notable actions was the destruction of a Japanese military convoy on the Sumatran coast. This daring operation, which involved several days of planning and execution, resulted in significant losses for the enemy. The success of this mission further solidified Lenang's reputation as a fearless leader.

Impact and Legacy

Lenang Manggala's impact on Indonesian history cannot be overstated. His bravery and leadership inspired countless others to join the fight for independence. Even though his life was cut short, his legacy lives on through generations of Indonesians who continue to draw inspiration from his courage and sacrifice. In 1971, Lenang Manggala was posthumously awarded the Bintang Gerilya (Patriot Star) medal by the Indonesian government in recognition of his services.

Why They Are Widely Quoted or Remembered

Lenang Manggala is widely quoted and remembered for his unwavering commitment to his country's freedom. His words, actions, and ultimate sacrifice have become a beacon of inspiration for Indonesians and people around the world who strive for self-determination and justice. As an Indonesian national hero, Lenang Manggala will continue to be celebrated as a symbol of courage, resilience, and patriotism.

Quotes by Lenang Manggala

Lenang Manggala's insights on:

With writing, i can do everything. Make nothing to be something, and then make something to big thing. So, i know, that nothing and big thing is so true as same thing.
"
With writing, i can do everything. Make nothing to be something, and then make something to big thing. So, i know, that nothing and big thing is so true as same thing.
Kita semua bisa melakukannya, jika Isra’ Mi’raj didefinisikan sebagai perjalanan menuju ruang pemaknaan. Buroqnya? Kesabaran dan pikiran yang terbuka.
"
Kita semua bisa melakukannya, jika Isra’ Mi’raj didefinisikan sebagai perjalanan menuju ruang pemaknaan. Buroqnya? Kesabaran dan pikiran yang terbuka.
Demi matahari senja yang menggantung manis manja di cakrawala, demi kebaikan dan ketulusan yang telaten diberikan semestas, dan demi ragam nama-nama Tuhan baik yang akrab maupun asing di telinga kita. Berkatilah kami semua, sebagaimana Kau memberkati Musa dengan tongkat kayu yang mampu membelah samudra. Kuatkanlah kami semua, sebagaimana Kau menguatkan Ayyub dengan kekudis yang bertahun dideritanya. Dan selamatkanlah kami semua, sebagaimana Kau menyelamatkan Nuh dengan bahtera yang dibangunnya.
"
Demi matahari senja yang menggantung manis manja di cakrawala, demi kebaikan dan ketulusan yang telaten diberikan semestas, dan demi ragam nama-nama Tuhan baik yang akrab maupun asing di telinga kita. Berkatilah kami semua, sebagaimana Kau memberkati Musa dengan tongkat kayu yang mampu membelah samudra. Kuatkanlah kami semua, sebagaimana Kau menguatkan Ayyub dengan kekudis yang bertahun dideritanya. Dan selamatkanlah kami semua, sebagaimana Kau menyelamatkan Nuh dengan bahtera yang dibangunnya.
Sesuatu yang telah terjadi, hanya akan tetap menjadi “sesuatu yang telah terjadi”. Tetapi, tentang bagaimana caramu menyikapi, adalah sesuatu yang menentukan perihal siapa dan bagaimana kualiatas dirimu sebagai seorang pribadi.
"
Sesuatu yang telah terjadi, hanya akan tetap menjadi “sesuatu yang telah terjadi”. Tetapi, tentang bagaimana caramu menyikapi, adalah sesuatu yang menentukan perihal siapa dan bagaimana kualiatas dirimu sebagai seorang pribadi.
Tidak ada yang tidak mungkin, sampai kata ‘tidak mungkin’ itu Anda proyeksikan pada pikiran Anda sendiri. Kata-kata adalah doa. Sekaligus rencana yang kita ajukan pada semesta.
"
Tidak ada yang tidak mungkin, sampai kata ‘tidak mungkin’ itu Anda proyeksikan pada pikiran Anda sendiri. Kata-kata adalah doa. Sekaligus rencana yang kita ajukan pada semesta.
Masih teralu banyak mahasiswa yang sibuk berbicara soal kesuksesan dan tercapainya pekerjaan yang diharapkan. Pengabdian, seolah hanya tugas bagi para veteran.
"
Masih teralu banyak mahasiswa yang sibuk berbicara soal kesuksesan dan tercapainya pekerjaan yang diharapkan. Pengabdian, seolah hanya tugas bagi para veteran.
Penyakit, musibah, dan perang barangkali memang bisa membunuh jutaan orang.Tetapi apatisme, selalu berhasil menghancurkan ratusan tahun peradaban.
"
Penyakit, musibah, dan perang barangkali memang bisa membunuh jutaan orang.Tetapi apatisme, selalu berhasil menghancurkan ratusan tahun peradaban.
Kehidupan bukan seperti segelas bir, yang setiap saat terasa getir. Bukan juga seperti segelas sirup pandan, yang selalu manis di setiap tegukkan. Tapi hidup ini, seperti secangkir kopi. Pahit dan manis, hadir saling mengimbangi.
"
Kehidupan bukan seperti segelas bir, yang setiap saat terasa getir. Bukan juga seperti segelas sirup pandan, yang selalu manis di setiap tegukkan. Tapi hidup ini, seperti secangkir kopi. Pahit dan manis, hadir saling mengimbangi.
Jika pendidikan tidak mendorong manusia untuk berjuang mewujudkan impiannya, berbagi dan berkarya untuk berkontribusi pada lingkungannya, serta mengokohkan keimanan pada Sang Pencipta, maka untuk apa pendidikan itu ada?
"
Jika pendidikan tidak mendorong manusia untuk berjuang mewujudkan impiannya, berbagi dan berkarya untuk berkontribusi pada lingkungannya, serta mengokohkan keimanan pada Sang Pencipta, maka untuk apa pendidikan itu ada?
With writing, i can do everything. Make nothing to be something, and then make something to big thing. So, i know, that nothing and big thing is so true as same thing
"
With writing, i can do everything. Make nothing to be something, and then make something to big thing. So, i know, that nothing and big thing is so true as same thing
Showing 1 to 10 of 59 results