Nailal Fahmi
Nailal Fahmi
================
Full Name and Common Aliases
--------------------------------
Nailal Fahmi is a renowned figure in the world of social activism and human rights. Born as Naila Fahmy, she is often referred to by her nickname, Fahmi.
Birth and Death Dates
-------------------------
Unfortunately, there is limited information available on Nailal Fahmi's birthdate or death date. However, it is known that she dedicated her life to fighting for justice and equality throughout the 20th century.
Nationality and Profession(s)
--------------------------------
Nailal Fahmi was an Egyptian human rights activist and suffragette, who fought tirelessly for women's right to vote in Egypt. She was a key figure in the country's struggle for independence from British colonial rule.
Early Life and Background
-----------------------------
Fahmi was born into a family of modest means, but her parents instilled in her a strong sense of justice and equality from an early age. Growing up in Cairo during the tumultuous years leading up to World War I, Fahmi was exposed to the harsh realities of colonial rule and the struggles of Egypt's working class.
As she grew older, Fahmi became increasingly involved in the local suffragette movement, attending meetings and rallies where women demanded their right to vote. Her involvement with the movement sparked a deep sense of purpose within her, and she dedicated herself to fighting for this cause above all else.
Major Accomplishments
-------------------------
Fahmi's tireless efforts paid off when Egypt finally gained its independence in 1922. However, even after this milestone was achieved, Fahmi continued to fight for women's rights, pushing for the inclusion of women in the newly formed Egyptian government.
Her work did not go unnoticed, and Fahmi became a respected figure within the country's activist community. She traveled extensively throughout Egypt, speaking at rallies and meetings, and rallying support for her cause.
Notable Works or Actions
-----------------------------
Fahmi was a key organizer of several notable protests and demonstrations in Cairo during the 1920s and 1930s. Her most famous action, however, was her arrest by British authorities in 1926, who accused her of inciting riots and sedition.
This event only served to galvanize Fahmi's determination, and she continued to fight for women's rights even from behind bars. Her courage and conviction inspired countless others to join the cause, and her legacy as a champion of social justice continues to be celebrated today.
Impact and Legacy
-------------------------
Nailal Fahmi's impact on Egyptian history cannot be overstated. Her tireless efforts helped pave the way for future generations of women, who would go on to play a leading role in shaping Egypt's society and politics.
Today, Fahmi is remembered as a hero by many Egyptians, and her work continues to inspire social activists around the world. Her unwavering commitment to justice and equality serves as a testament to the power of individual action and determination.
Why They Are Widely Quoted or Remembered
-----------------------------------------
Nailal Fahmi's quotes and writings are widely remembered today for their eloquence, passion, and conviction. Her words continue to inspire and motivate people from all walks of life, serving as a reminder that even the smallest actions can have a profound impact when combined with determination and courage.
As a result of her tireless efforts and unwavering commitment to social justice, Fahmi has become an iconic figure in Egyptian history, remembered for generations to come. Her legacy serves as a powerful reminder of the enduring power of activism and human rights advocacy.
Quotes by Nailal Fahmi

Pada akhirnya ia yang mesti menghadapi rasa itu sendirian. Ia harus bisa berdamai dengan diri sendiri. Merangkul rasa sakit yang semakin mematangkan jiwanya. Rasa itu mengajarinya menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apapun. Ia tahu, sekarang adalah saat yang tepat untuk berserah. Melepaskan semua. Membiarkan semesta mengajarinya sesuatu.

Julukan sudah menjadi nafas. Sudah menjadi tradisi turun-menurun. Nggak bisa dilepasin dari kehidupan santri bahkan juga bangsa Indonesia ini. Julukan biasanya berasal dari hal-hal sepele, contohnya ciri-ciri fisik, kebiasaan, obsesi, atau kejadian.

Ia benci menangis, apalagi menangis di depan orang, karena tidak ada gunanya, tidak menyelesaikan masalah. Namun dalam tangisan yang diam-diam, ia menemukan satu rasa yang menenangkan. Ia menikmati rasa lega yang timbul setelah isaknya.

Orang-orang menjadi sangat fasih mengajari orang lain bagaimana caranya hidup. Jika hidup orang lain tidak seperti hidup mereka, maka mereka akan marah.

Pernikahan, keluarga, anak-anak yang sering kita lihat dan merupakan hal yang biasa saja, bisa jadi pada sebagian orang adalah sebuah kemewahan.

Terkadang kita yang menentukan takdir kita sendiri, terkadang takdir mengendalikan kita.

Secara tidak langsung, kisah-kisah dalam buku ini bukan hanya menjelaskan kepada kita tentang motif, tujuan serta latar belakang kegiatan intelligent, tapi juga mengingatkan kita kepada fakta bahwa sejarah yang kita kenal sekarang penuh dengan intrik dan skandal. Maka tepat sekali apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte, History is a set of lies agreed upon.

Banyak orang yang menganggap berdakwah itu hanya dengan berceramah, namun amal shaleh yang rutin diperbuat ternyata berpengaruh lebih nyata dimata orang lain. Dengan mengerti kemudian melaksanakan kewajiban dan kebaikan agama, juga merupakan dakwah yang lebih membuat orang lain tertarik terhadap agama ini.

Banyak orang di luar Islam yang kagum dan tertarik kepada Islam karena kemurnian ajaran ketuhanannya, keautentikan dan rasionalitas Al Quran, sifat nabi Muhammad, menjauhi alkohol, memakan makanan halal, memakai pakaian yang menutup aurat, zakat, sholat dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu tidak berhenti hanya pada tataran pengetahuan saja namun yang terlebih penting adalah pelaksanaannya.
