SH

Soe Hok Gie

16quotes

Soe Hok Gie: A Life of Passion and Activism


==============================================

Full Name and Common Aliases

Soe Hok Gie was a Indonesian student activist and writer who is best known for his passionate advocacy for social justice. His full name was Soe Hok Gie, but he was also commonly referred to as Gie by friends and acquaintances.

Birth and Death Dates

Gie was born on May 28, 1942, in Palembang, South Sumatra, Indonesia. He died on February 17, 1967, at the age of 24, due to injuries sustained during a protest against the Indonesian government's policies.

Nationality and Profession(s)

Soe Hok Gie was an Indonesian national and a student activist by profession. He was a dedicated advocate for social justice and human rights, and his work had a significant impact on Indonesia during the tumultuous period of its transition to democracy.

Early Life and Background

Gie's early life was marked by tragedy when he lost his family in a bombing raid by Allied forces during World War II. This experience had a profound effect on him, shaping his worldview and inspiring his commitment to social justice. After completing his secondary education, Gie enrolled at the University of Indonesia, where he became involved in student activism and began writing for various publications.

Major Accomplishments

Gie's accomplishments were numerous and far-reaching. He was one of the leaders of the Indonesian Student Movement (SMI) during the 1960s, which aimed to bring about democratic reforms and challenge the authoritarian regime of President Sukarno. Gie's writings and activism helped to galvanize public opinion in favor of reform, and his efforts played a significant role in shaping Indonesia's transition to democracy.

Notable Works or Actions

Gie's notable works include his diary entries, which provide a poignant and insightful account of his experiences as an activist during this period. His writings are characterized by their passion, conviction, and eloquence, making them highly regarded among scholars and activists alike. One of his most famous quotes is: "I'd rather die than live without principles." This quote encapsulates the spirit of Gie's activism and commitment to social justice.

Impact and Legacy

Gie's impact on Indonesia was significant, as he helped to galvanize public opinion in favor of reform and challenge the authoritarian regime. His legacy extends beyond his country, as his writings and activism have inspired countless individuals around the world who are committed to fighting for human rights and social justice. Today, Gie is remembered as a hero and a champion of democracy, and his work continues to inspire new generations of activists.

Why They Are Widely Quoted or Remembered

Soe Hok Gie's quotes and writings are widely quoted because they embody the spirit of activism and commitment to social justice that he exemplified throughout his life. His words continue to resonate with people around the world who are inspired by his courage, conviction, and willingness to challenge authority in pursuit of a more just society. As an activist and writer, Gie's impact is immeasurable, and his legacy will continue to inspire future generations of leaders and thinkers.

Quotes by Soe Hok Gie

Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka
"
Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka
Baru-baru ini seorang OKD (Organisasi Keamanan Desa) memukul tukang becak. Kita kasihan pada OKD yang penakut itu. Mereka, untuk menutupi kekecilan-nya (cuma OKD) berlagak seperti jendral. Sebenarnya mereka adalah seorang yang penakut. Orang yang berani karena bersenjata adalah pengecut.Sabtu, 12 Desember 1959
"
Baru-baru ini seorang OKD (Organisasi Keamanan Desa) memukul tukang becak. Kita kasihan pada OKD yang penakut itu. Mereka, untuk menutupi kekecilan-nya (cuma OKD) berlagak seperti jendral. Sebenarnya mereka adalah seorang yang penakut. Orang yang berani karena bersenjata adalah pengecut.Sabtu, 12 Desember 1959
Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata "tidak". Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.
"
Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata "tidak". Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.
Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa.
"
Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa.
Aku tidak percaya bentuk Tuhan apa pun, kecuali yang sesuai dengan idealku sendiri. Aku pun tak yakin (pasti malah) tentang ke-tak-ada-annya nasib. Juga tak percaya kita juga. Dewasa ini aku berpendapat bahwa kita adalah pion dari diri kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita adalah arsitek nasib kita, tapi kita tak pernah dapat menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri. Itulah aku kira mengapa kita harus belajar sejarah dan dalam hal ini mengapa aku pesimis.
"
Aku tidak percaya bentuk Tuhan apa pun, kecuali yang sesuai dengan idealku sendiri. Aku pun tak yakin (pasti malah) tentang ke-tak-ada-annya nasib. Juga tak percaya kita juga. Dewasa ini aku berpendapat bahwa kita adalah pion dari diri kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita adalah arsitek nasib kita, tapi kita tak pernah dapat menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri. Itulah aku kira mengapa kita harus belajar sejarah dan dalam hal ini mengapa aku pesimis.
Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi .
"
Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi .
Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.
"
Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.
Dunia ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu hati rasanya menjadi lega.
"
Dunia ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu hati rasanya menjadi lega.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak'kan pernah kehilangan apa-apa
"
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak'kan pernah kehilangan apa-apa
Orang yang berani karena bersenjata adalah pengecut.
"
Orang yang berani karena bersenjata adalah pengecut.
Showing 1 to 10 of 16 results