Remy Sylado
Remy Sylado: A Life of Purpose and Passion
=====================================================
Full Name and Common Aliases
---------------------------------
Remy Sylado was born as Remigius Sylvester Siladji in 1922. He is often referred to by his initials, R.S., or simply Remy.
Birth and Death Dates
-------------------------
Remy Sylado was born on October 5, 1922, and passed away on August 23, 2003.
Nationality and Profession(s)
---------------------------------
Remy Sylado was an Indonesian poet, translator, and educator. He is considered one of the most important figures in modern Indonesian literature.
Early Life and Background
------------------------------
Born into a Javanese family in East Java, Indonesia, Remy Sylado's early life was marked by a deep love for poetry and learning. His parents encouraged his interest in literature and music, instilling in him a strong sense of culture and identity.
Remy's education took him to the Netherlands, where he studied literature at Leiden University. This period not only broadened his knowledge but also exposed him to Western literary traditions that would later influence his own work.
Major Accomplishments
-------------------------
Throughout his life, Remy Sylado achieved numerous milestones in both his personal and professional pursuits:
He was one of the founders of the Indonesian Literary Society (Pusat Pemantapan Bahasa dan Sastra Indonesia) in 1947.
Remy translated several works from Dutch into Indonesian, including those by prominent authors like Multatuli and Willem Gerard van den Berg.
His own poetry collections, such as "Sajak-sajak dari Bumi Ini" (Poems from This Earth), were celebrated for their rich imagery and deep exploration of the human condition.Notable Works or Actions
-----------------------------
Remy's contributions to Indonesian literature extend beyond his written works:
He was a vocal advocate for the development of Indonesian literature, pushing for its recognition as an independent literary tradition.
Remy's translations helped bridge the cultural divide between Indonesia and the Netherlands, fostering greater understanding and appreciation between the two nations.
Through his teachings and mentorship, he inspired generations of writers and scholars, shaping the course of Indonesian literature.
Impact and Legacy
-------------------------
Remy Sylado's impact on Indonesian literature cannot be overstated. His dedication to promoting indigenous languages and cultures helped establish Indonesia as a major force in Southeast Asian literary circles.
His poetry and translations remain highly regarded today, offering readers insights into the complexities of human existence and the interconnectedness of cultures. Remy's legacy continues to inspire new voices in Indonesian literature, ensuring that his passion for storytelling endures through generations.
Why They Are Widely Quoted or Remembered
---------------------------------------------
Remy Sylado's quotes often touch on the importance of preserving cultural heritage, promoting linguistic diversity, and the power of literature to shape our understanding of the world. His words have been widely quoted in academic circles, literary journals, and even in public discourse:
> "Literature is not a luxury, but a necessity for a nation seeking self-discovery and expression."
Quotes by Remy Sylado
Remy Sylado's insights on:

Lebih baik bertengkar karena cinta daripada diam kesepian menanggung benci Sebab, hidup dengan seseorang yang dicinta memang tidak sunyi dari sakit di raga tapi, hidup tanpa seseorang yang mencinta membuat orang mengundang rasa sakit di jiwa.

Pernikahan adalah satu-satunya keindahan yang bisa dituturkan manusia dari tiga peristiwa insani antara kelahiran-pernikahan-kematian, yang bisa dituturkan kepada generasi, adalah keindahan saat menjadi mempelai. Itu keindahan yang tak terlupakan. Maka, kalau ingin rumah tangga tetap utuh, sentosa, damai, ingatlah saat berada di pelaminan, menjadi mempelai, disalami ayah-bunda, kerabat, keluarga, dan handai-tolan.

Berpuisi merupakan suatu kepandaian manusia memanfaatkan imaji ke dalam tantangan kreatif merangkai kata-kata terpilih dan membangunnya menjadi seni.

Hebat sekali orang Indonesia ini. Agaknya orang Indonesia, seperti kasat mata pada sosok Dharsana ini, paling gampang sekali melibatkan Tuhan untuk hal-hal yang mestinya bisa diselesaikan oleh Pak RT. Agaknya belum ada penelitian menyangkut kesukaannya ber-Tuhan-Tuhan untuk tindakan-tindakan yang justru direstui setan, sementara pelafalan Tuhan yang dilakukan berulang-ulang hasilnya bisa berubah menjadi Hantu: Tu-Han-Tu-Han-Tu. Hantu itu saudara sepupu setan.

Sebab, bahaya yang sesungguhnya bukan pada orang yang marah-marah, tapi pada orang yang diam. Orang marah dapat diukur hatinya, orang diam tak mudah ditakar akalnya.

Kata Lintjens, "Meis, jangan memarahi Tuhan dalam kesusahanmu. Kau toh tidak bertanya di mana Tuhan ketika kau merasa senang".

Agaknya sang waktulah yang paling perkasa dalam kehidupan. Ia tak tersaing,Tak pernah mengeluh. Tak pernah juga merasa takut. Sementara manusia -saya dan anda- berlanjut usia, berlanjut pula tulahnya.

...bahwa dunia tempatnya berdiri tidak hanya hitam dan putih. Ada banyak warna di atasnya. Sementara warna-warna pun bisa berubah nama, bergantung pada kekuatan di luarnya yang memegang pengesahan.

